Sabtu, 26 November 2011

VRATI SASANA

VRATI SASANA

Om awighnam astu nama sidhyam.
Om namah siwaya
                                                1.
                   Pranamya bhaskaram dewam,         bhukti mukti varapradam,
                   sarva loka hitarthaya, pravaksye vrati sasanam.

Sujud bhakti dipersembahkan kehadapan dewa Bhaskara, dengan lahir bathin dihormati sebagai penguasa sorga yang maha pemberi, terhadap sekalian alam semesta beserta isinya, bahkan telah mengajarkan Vrati Sasana yakni aturan tata krama kependetaan.

          Bhatara siwaditya sira sinembah ni nghulun, sira dewa sakala, manganugrahani bhukti mwang mukti, bhukti, nga, abhyudaya, mukti, nga, kanihsrayasan, apa ta doninghulun sumembah ri sira.

          Beliaulah Bhatara Siwaditya yang amba sujud sembah, Beliau tiada lain Dewa yang berwujud nyata, berkenan memberikan bhukti dan mukti, bhukti tiada lain adalah kebahagiaan duniawi, sedangkan mukti adalah kebahagiaan sorgawi, itulah sebabnya hamba bersujud puja kehadapan Beliau.     

          Vrati sasanam pravaksye
Melalui ajaran Vrati Sasana.

          Hulun umajaraken sasana sang wiku, sarwa loka hitarthaya, maka don sukaning loka, ndhya ta nihan.

            Hamba mengutarakan tata aturan sang wiku, sekalian alam semesta beserta isinya, dengan tujuan untuk kebahagiaan masyarakat dunia, demikian adanya
                                      2.
          Yamasca niyamascewa, yadaraksenu panditah,
          tesam sang raksite neva, buddhi raksyana calyate.

          Sang pandita sira, rinaksanira ikang yamabrata,
mwang ikang niyama brata, apan yan karaksa yama niyama brata,
tan cala buddhi nira , ndhya tang yama brata.

Beliau para Pendeta, hendaknya memegang teguh, hakikat Yama Brata, serta hakikat Niyama Brata, sebab bila telah menguasai Yama Niyama Brata, tentu takkan kotor budi atau pikiran beliau. Inilah kehakikian Yama Brata.

                                      3.
          Ahingsa brahmacaryyanca, satyam avya vahararikam,
          astenyam iti pancete, yama rudrena bhasitah.

          Ahingsa ngaraning tan pamati mati, brahmacaryya ngaraning, tan kneng stri sangkan rare, mwang sang kumawruhi mantra kabrahmacayyan. Satya ngaraning tuhu mojar. Awyawaharika tan pawyawahara. Astenya ngaraning tan cidra ring drewyaning len, ika kalima, yama brata ngaranya ling Bhatara Rudra.

Ahingsa artinya tidah membunuh. (pikiran perkataan dan perbuatan tidak menyakiti orang lain).
Brahmacaryya artinya tidak pernah beristri sejak kecil, dan senantiasa tekun mempelajari mantra kebrahmacarian.
Satya berarti berkata jujur ( disiplin serta taat pada sesana).
Awyawaharika berarti telah tidak terikat lagi dengan perasaan keduniawian.
Astenya berarti tidak bermaksud ingin memiliki milik orang lain, kelima unsur itu Panca Yama Brata namanya sabda Bhatara Rudra.

                                                4.
          Akrodha guru susrusa, socam ahara laghavam,
          apramadasca pancete, niyamah parikirttitah.

          Akrodha ngaraning tan kataman srengen. Guru susrusa ngaraning lotu (lana)  humulahaken siddhaning swakaryyaning guru, guru bhakti kalinganya ring mangkana, maka nimitta yuniran rumengwaken sarinahasyaning warah warah sang guru.
Soca ngaraning nityasah macamana suryya sewana ngarccana ri bhatara.
Aharalaghawa ngaraning tan barang-barang ing pinangan.
Apramada ngaraning tan paleh-paleh, ana mangabhyasa ri sanghyang kabujanggan, ika ta kalima, niyama brata nga ling Bhatara Siwa.

            Akrodha artinya tidak dikuasai oleh nafsu marah.
Guru susrusa artinya selalu berada dekat dengan guru untuk dapat melaksanakan semua perintah guru, berdasarkan tumpuan rasa hormat kepada guru, karena terkandung maksud untuk mendapatkan petunjuk atau nasehat nasehat guru.
Soca artinya senantiasa membersihkan dirilahir bathin serta memohon penyucian diri kehadapan Ida Bhatara.
Aharalaghawa artinya makan dengan cara yang tidak sembarangan.
Apramada artinya tidak merasa ragu – ragu sama sekali, untuk melaksanakan swadharma kependetaan. Kelima unsur itu dinamakan Panca Niyama Brata, sabda Bhatara Siwa.

            Ika tang yama niyama brata, ya ta rinaksa de sang wiku sari sari, maka don ka tegehanira sanghyang brata, apan yan tan karaksa salah siki ika, niyatang buddhi cancala temahanya, ya ta matangyan panasar sangkeng kawikun, maka wasana ngabhaksana, apeya-peya, agamya gamana, yeka panten bwat awanya, yapwan tan karaksa ngahingsa brata, maka nimittaning krodha, moha,  mada, mana, matsaryya, nguni nguni maka nimittang kama, yeka panten dadyanya, kunang pwang hingsaka yan maka don dharma, tan dosa ika.

            Yama dan Niyama Brata itu hendaknya dijaga oleh para pendeta setiap hari, dengan maksud tetap tegaknya brata kependetaan itu, sebab andaikata tidak ditaati sakah satu dari itu, jelas sekali menyebabkan pikiran menjadi kotor atau goncang, itu berarti akan menyimpang jauh dari dharma kependetaan, jadi akibatnya tentu akan memakan makanan yang tak layak dimakan, meminum minuman yang tak layak diminum, melakukan sanggama dengan cara yang tidak dibenarkan, itu sesunguhnya perbuatan panten ( dosa yang tidak tertolong), karena ternyata tidak mampu mentaati dengan baik panangan untuk tidak membunuh, yang dibangkitkan karena kemarahan, kebingungan, karena mabuk, kesombongan, perasaan irihati, lebih-lebih ditimbulkan karena nafsu birahi, justru itu yang menyebabkan panten. Adapun jika hendak membunuh dengan tujuan dharma itu (?) tidak dosa itu.


            Ndhya tang hingsa ka maka don dharma, ring amatyani sarwwa satwa. maka don ginawe caru ring dewa puja, pitra puja, hatiti puja, Bali karmma puja, tan dosa sira yan mangkana,

            Adapun jika hendak membunuh dengan tujuan tegaknya dharma, maka itu bukanlah dosa namanya.

revolusi agama hindu di india

BAB I
PENDAHULUAN
1.     Latarbelakang
.Perkembangan Agama Hindu di India, berlangsung dalam kurun waktu yang amat panjang yaitu berabad-abad hingga sekarang. Sejarah yang amat panjag itu menurut pendapat Govinda Das Hinduism Madras, 1924, halaman 25, zaman dikatakan dapat dibagi 3 bagian yang besar, sekalipun batas-batas pembagiannya tak dapat dipastikan dengan jelas. Ketiga bagian itu adalah :Zaman Veda Kuna, Zaman Brahmana dan Zaman Upanisad. Perkembangan Agama Hindu diawali dengan Zaman Veda kuna. Di Zaman ini dimulai dari datangnya bangsa Arya kurang lebih 2500 tahun sebelum masehi ke India, dengan menempati lembah sungai Sindhu, yang juga dikenal dengan nama Punyab (daerah lima aliran sungai). Bangsa Arya tergolong ras Indo Eropa, yang terkenal sebagai pengembara cerdas, tangguh dan trampil. Zaman Veda kuna juga di kenal dengan penulisan wahyu suci Veda yang dipakai pegangngan oleh Umat Hindu di Seluruh Dunia
2.      Rumusan masalah
·         Apa yang dapat di ketahui dari Zaman Veda Kuna di India?
·         Bagaimana kepercayaan masyarakat setempat pada Zaman Veda kuna ?
  1. Tujuan
Penulisan tugas ini bertujuan untuk :
·         Secara umum di harapkan dapat menambah pengetahuan pembaca tentang Zaman Veda kuna di india dan juga memecahkan permasalahan di atas.
·         Secara kusus di harapkan dengan tugas ini kami dapat memahai lebih mendalam tentang perkembangan Agama Hindu di India dan juga menyelesaikan tugas yang di berikan oleh dosen.



BAB II
PEMBAHASAN


 Zaman Veda Kuna Di India
Zaman ini dimulai dari datangnya bangsa Arya kurang lebih 2500 tahun sebelum masehi ke India, dengan menempati lembah sungai Sindhu, yang juga dikenal dengan nama Punyab (daerah lima aliran sungai). Bangsa Arya tergolong ras Indo Eropa, yang terkenal sebagai pengembara cerdas, tangguh dan trampil. Zaman Veda kuna merupakan zaman penulisan wahyu suci Veda yang pertama yaitu Rg Veda. Kehidupan beragama pada jaman ini, didasarkan atas ajaran-ajaran yang tercantum pada Veda Samitha, yang lebih banyak menekankan pada pembacaan perafalan ayat-ayat Veda secara oral, yaitu dengan menyanyikan dan mendengarkan secara berkelompok. Veda adalah kitab suci Agama Hindu. Sumber ajaran Agama Hindu adalah kitab suci Veda. Semua ajarannya bernafaskan Veda. Veda menjiwai ajaran Agama Hindu, karena itu agama Hindu mengakui kewenangan ajaran kitab suci Veda. Veda adalah wahyu atau sabda suci Tuhan Yang Maha Esa/Hyang Widhi Wasa, yang diyakini oleh umatnya sebagai anadi ananta yakni tidak berawal dan tidak diketahui kapan diturunkan dan berlaku sepanjang masa. Namun demikian di kalangan sarjana, baik Hindu maupun Barat telah berikhtiar untuk menentukan kapan sebenarnya Veda itu diwahyukan, hal ini dikemukakan antara lain oleh :
Lokamaya Tilakshastri
Memperkirakan Veda sudah diturunkan sekitar 6000 tahun sebelum masehi.
Bal Gangadhar
Memperkirakan bahwa Veda sudah diturunkan sekitar tahun 4000 sebelum Masehi, yang diterima oleh para Maharsi.
Maharsi  itu adalah orang-orang suci yang dapat berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Di dalam agama Hindu, Maharsi penerima wahyu itu tidaklah hanya seorang, melainkan beberapa orang, yang telah populer dengan sebutan Sapta Rsi yaitu tujuh orang Rsi adalah :
1.      Grtsamada
2.      Wiswamitra
3.       Atri
4.      Bharadwaja
5.      Wamadeva
6.      Kanva
7.      Wasistha
Selain Sapta Rsi, juga dikenalk 29 Maharsi penerima wahyu yang disebutkan dengan Nawavimsati Krtyasca Vedavyastha Maharsihbhih yaitu antara lain : Swaymabhu, Daksa, Usana, Aditya, Wrhaspati, Mrtyu, Indra, Wasistha, Saraswata, Tridhatu, Tridrta, Sandyaya, Akasa, Dharma Triyaguna, Dhananjaya, Kertyaya, Ranajaya, Gotama, Uttama, Parasara dan Vyasa. Pada zaman Veda, dilanjutkan dengan penulisan dan penghimpunan wahyu Veda lainnya, seperti Sama Veda Yajur Veda dan Atharva Veda, yang penulisannya mempunyai jarak waktu sangat jauh jika dibandingkan dengan Rg Veda. Menurut tradisi Hindu, Maharsi terbesar yang sangat besar jasanya dalam menghimpun dan mengkodifikasikan Catur Veda adalah Maharsi Vyasa. Beliau dibantu oleh empat orang siswanya yaitu :
1.      Maharsi Pulaha sebagai penyusun Rg Veda.
2.      Maharsi Jaimini sebagai penyusun Sama Veda.
3.      Maharsi Waisampayana sebagai penyusun Yajur Veda.
4.      Maharsi Sumantu, sebagai penyusun Atharva Veda.



Zaman Veda Kuna juga di bagi menjai 4 yaitu:
1) Rg Veda ;Merupakan yang tertua dan terpenting. Isinya dibagi atas 10 mandala, menunjukkan kebenaran yang mutlak. Mantranya terdiri dari 10.552, diucapkan untuk mengundang, mendekatkan Tuhan Yang Maha Esa dan manifestasi yang dipuja agar hadir pada saat upacara. Pengucapan mantra adalah pemimpin upacara yang disebut Hotr.
2) Sama Veda :Isinya hampir seluruhnya diambil dari Rg Veda, kecuali beberapa nyanyian suci yang dinyanyikan pada waktu pacara dilakukan. Jumlah mantranya terdiri dari 1875. Penyampaian nyanyiannya diberikan lagu,  yang diucapkan oleh pemimpin uapcara yang disebut Udgatr.
3) Fajur Veda:Terdiri dari 1975 mantra, berbentuk prosa yang isinya berupa yajur atau rafal dan doa pengucapannya adalah pemimpin upacara bernama Adwaryu pada saat dilaksanakan suatu upacara korban. Fungsi rafal adalah bukan menuju para dewa melainkan untuk mengubah upacara korban yang dipersembahkan menjadi makanan yang dapat diterima oleh para dewa dengan pengucapkan berulang-ulang disertai dengan menyebutkan nama dewa yang dihadirkan.
4) Atharva Veda:Terdiri dari 5987 mantra berbentuk prosa yang isinya berupa mantra-mantra dan kebanyakan bersifat magis, yang memberikan tutunan hidup sehari-hari berhubungan dengan keduniawian seperti tampak dalam sihir, tenung, perdukunan. Isi sihir-sihir dimaksud bertujuan untuk menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat, mencelakakan musuh dan lain sejenisnya.







Kepercayaan masyarakat pada zaman ini dapat dilihat dewa yang dipercayai kedudukannya lebih tinggi, karena bersikap murah pada manusia dan berkenan menerima pujaan dan pujian manusia. Dewa-dewa selalu dihadirkan dalam menyelamatkannya dari gangguan-gangguan roh jahat. Mengenai jenis korban yang dilakukan, ada dua macam, yaitu :
1)      Korban tetap, seperti :
-                tiap kali,
-                pada waktu pagi dan sore,
-                tiap bulan baru,
-                tiap bulan purnama,
-                tiap awal musim semi,
-                tiap awal musim hujan,
-                tiap awal musim dingin

2)      Korban berkala, seperti :
-          Korban soma,
-          Korban Aswameda/Korban Kuda,
-          Korban Rajasuya.
Selain korban-korban tersebut, juga masih ada upacara-upacara lain yang harus dilakukan yaitu seperti pada waktu : istri mengandung, istri melahirkan anak, anak berumur tiga bulan, anak akan diajak bepergian untuk pertama kalinya, anak untuk pertama kali mulai diberi makan, anak dicukur yang pertama kalinya.
Mengenai Dewa-dewa dalam Rg Veda disebutkan ada 33 Dewa, dibedakan atas : Dewa-dewa langit, Dewa-dewa Angkasa, Dewa-dewa Bumi.
Dewa-dewa langit antara lain adalah Dewa Waruna, yang dipandang sebagai pengawas tata dunia atau Rta. Akibat karya Dewa Waruna maka langit teratur, sungai-sungai mengalir dengan baik dan musim-musim datang pada waktunya. Dewa Waruna memberikan hadiah kepada yang mengikuti Rta dan hukuman kepada yang jahat. Selain Waruna juga Dewa Surya dan Dewa Wisnu termasuk Dewa Langit. Dewa Surya diyakini dapat memperpanjang hidup dan mengusir penyakit. Dewa Surya digambarkan sebagai menaiki kereta yang ditarik oleh tujuh ekor kuda. Dewa Wisnu dimasukkan Dewa langit karena dapat melangkah tiga langkah. Langkahnya yang ketiga dipandang tertinggi, sebagai Surga tempat kediaman para Dewa.
Dewa-dewa Angkasa antara lain adalah Dewa Indra dan Dewa Angin. Dewa Indra sering disebut Dewa perang dan mendapatkan kehormatan yang besar sekali, sebab sering membantu manusia dalam perang. Dewa Indra digambarkan bersenjatakan panah/wajra. Dewa angin dipandang sebagai dewa yang penting.
Yang termasuk Dewa-dewa bumi adalah Dewa Pertiwi, dan Dewa Agni. Dewa Pertiwi adalah Dewa Bumi yang sering disembah sebagai Dewa Ibu. Dewa Agni juga disebut Dewa Api, yang sering dimohon anugrahnya sebab itu api tetap dipergunakan dalam pelaksanaan upacara keagamaan.
Pandangan terhadap roh-roh jahat ada dua golongan, yaitu yang tinggi dan rendah martabatnya. Yang tinggi martabatny menjadi musuh para Dewa-dewa seperti Dewa Warta yaitu musuh dari Dewa Indra. Dewa Warta adalah penguasa musim kemarau.
Yang rendah martabatnya adalah Raksasa, yang sering menampakkan dirinya sebagai binatang, manusia, pisaca, yang suka makan daging mentah dan mayat serta bangkai-bangkai binatang.

Rabu, 23 November 2011

catur marga


Penerapan Catur Marga Bagi Masyarakat di Bali


Penerapan Catur Marga Bagi Masyarakat di Bali
Oleh : I Ketut Subagiasta (IHDN Denpasar)
Apa makna catur marga? Catur Marga adalah empat jalan atau cara umat Hindu untuk menghormati dan menuju ke jalan Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sumber ajaran catur marga ada diajarkan dalam pustaka suci Bhagawadgita, terutama pada trayodhyaya tentang karma yoga marga yakni sebagai satu sistem yang berisi ajaran yang membedakan antara ajaran subha karma (perbuatan baik) dengan ajaran asubha karma (perbuatan yang tidak baik) yang dibedakan menjadi perbuatan tidak berbuat (akarma) dan wikarma (perbuatan yang keliru). Karma memiliki dua makna yakni karma terkait ritual atau yajna dan karma dalam arti tingkah perbuatan.
Penerapan Catur Marga Bagi Masyarakat di Bali
Oleh : I Ketut Subagiasta (IHDN Denpasar)
Apa makna catur marga? Catur Marga adalah empat jalan atau cara umat Hindu untuk menghormati dan menuju ke jalan Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sumber ajaran catur marga ada diajarkan dalam pustaka suci Bhagawadgita, terutama pada trayodhyaya tentang karma yoga marga yakni sebagai satu sistem yang berisi ajaran yang membedakan antara ajaran subha karma (perbuatan baik) dengan ajaran asubha karma (perbuatan yang tidak baik) yang dibedakan menjadi perbuatan tidak berbuat (akarma) dan wikarma (perbuatan yang keliru). Karma memiliki dua makna yakni karma terkait ritual atau yajna dan karma dalam arti tingkah perbuatan. Kedua, tentang bhakti yoga marga yakni menyembah Tuhan dalam wujud yang abstrak dan menyembah Tuhan dalam wujud yang nyata, misalnya mempergunakan nyasa atau pratima berupa arca atau mantra. Ketiga, tentang jnana yoga marga yakni jalan pengetahuan suci menuju Tuhan Yang Maha Esa, ada dua pengetahuan yaitu jnana (ilmu pengetahuan) dan wijnana (serba tahu dalam penetahuan itu). Keempat, Raja Yoga Marga yakni mengajarkan tentang cara atau jalan yoga atau meditasi (konsentrasi pikiran) untuk menuju Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Umat manusia memiliki tujuan hidup, termasuk juga umat Hindu memiliki tujuan hidup yang jelas yakni seperti berikut:
a) Moksartham jagad hita ya ca iti dharma;
b) Catur Purusa Artha;
c) Santa Jagad Hita;
d) Sukerta sakala lan niskala;
e) Mencapai keharmonisan hidup sesuai ajaran Catur Marga.
Penerapan catur marga oleh umat Hindu sesungguhnya telah diterapkan secara rutin dalam kehidupannya sehari-hari, termasuk juga oleh umat Hindu yang tinggal di Bali maupun oleh umat Hindu yang tinggal di luar Bali. Banyak cara dan banyak pula jalan yang bisa ditempuh untuk dapat menerapkannya. Sesuai dengan ajaran catur marga bahwa penerapannya disesuaikan dengan kondisi atau keadaan setempat yang berdasarkan atas tradisi, sima, adat-istiadat, drsta, ataupun yang lebih dikenal di Bali yakni desa kala patra atau desa mawa cara.
Inti dan penerapan dan Catur Marga adalah untuk memantapkan mengenai hidup dan kehidupan umat manusia di alam semesta ini, terutama untuk peningkatan, pencerahan, serta memantapkan keyakinan atau kepercayaan (sraddha) dan pengabdian (bhakti) terhadap Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan memahami dan menerapkan ajaran catur marga, maka diharapkan segenap umat Hindu dapat menjadi umat Hindu yang berkualitas, bertanggung jawab, memiliki loyalitas, memiliki dedikasi, memiliki jati diri yang mulia, menjadi umat yang pantas diteladani oleh umat manusia yang lainnya, menjadi umat yang memiliki integritas tinggi terhadap kehidupan secara lahir dan batin, dan harapan mulia lainnya guna tercapai kehidupan yang damai, rukun, tenteram, sejahtera, bahagia, dan sebagainya. Jadi dengan penerapan dan ajaran catur marga diharapkan agar kehidupan umat Hindu dan umat manusia pada umumnya menjadi mantap dalam berke-sraddha-an dan berke-bhakti-an kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, serta dapat diharmoniskan dengan kehidupan nyata dengan sesama manusia, semua ciptaan Tuhan, dan lingkungan yang damai dan serasi di sekitar kehidupan masing-masing.
Beberapa model atau bentuk nyata dan penerapan jnana marga berikut ini :
a) Menerapkan ajaran aguron-guron;
b) Menerapkan ajaran guru dan sisya;
c) Menerapkan ajaran guru bhakti;
d) Menerapkan ajaran guru susrusa;
e) Menerapkan ajaran brahmacari dan ajaran catur guru;
f) Menerapkan ajaran sisya sasana;
g) Menerapkan ajaran resi sasana;
h) Menerapkan ajaran putra sasana;
i) Menerapkan ajaran guru nabe, guru waktra, guru saksi;
j) Menerapkan ajaran catur asrama; dan
k) Menerapkan ajaran dalam wrati sasana, slokantara, sila krama, dan ajaran agama Hindu yang bersumber pada Veda dan susastra Hindu lainnya.
Mengenai penerapan karma marga
oleh umat Hindu seperti berikut ini :
1. Menerapkan filosofi ngayah;
2. Menerapkan filosofi matulungan;
3. Menerapkan filosofi manyama braya;
4. Menerapkan filosofl paras-paros sarpanaya salunglung sabayantaka;
5. Menerapkan filosofi suka dan duka;
6. Menerapkan filosofi agawe sukaning wong len;
7. Menerapkan filosofi utsaha ta larapana;
8. Menerapkan filosofi makarya;
9. Menerapkan filosofi makarma sane melah;
10. Menerapkan filosofi ala kalawan ayu;
11. Menerapkan filosofi karma phala;
12. Menerapkan filosofi catur paramita;
13. Menerapkan filosofi tri guna;
14. Menerapkan filosofi trikaya parisudha; dan
15. Menerapkan filosofi yama niyama brata dan berbagai ajaran agama Hindu.
Mengenai penerapan bhakti marga oleh umat Hindu seperti berikut ini :
1) Melaksanakan doa atau puja tri sandhya seçara rutin setiap hari;
2) Menghaturkan banten saiban atau jotan/ngejot atau yajnasesa;
3) Berbakti kehadapan Tuhan Yang Maha Esa beserta semua manifestasi-Nya;
4) Berbakti kehadapan Leluhur;
5) Berbakti kehadapan para pahlawan pejuang bangsa;
6) Melaksanakan upacara dewa yajna (piodalan/puja wali, saraswati, pagerwesi, galungan, kuningan, nyepi, siwaratri, purnama, tilem, tumpek landep, tumpek wariga, tumpek krulut, tumpek wayang dan lain-lainnya);
7) Melaksanakan upacara manusia yajna (magedong-gedongan, dapetan, kepus puser, macolongan, tigang sasihin, ngotonin, munggah deha, mapandes, mawiwaha, mawinten, dan sebagainya);
8) Melaksanakan upacara bhuta yajna (masegeh, macaru, tawur, memelihara lingkungan, memelihara hewan, melakukan penghijauan, melestarikan binatang langka, dan sebagainya);
9) Melaksanakan upacara pitra yajna (bhakti kehadapan guru rupaka atau rerama, ngaben, ngerorasin, maligia, mamukur, ngeluwer, berdana punya kepada orang tua, membuat orang tua menjadi hidupnya bahagia dalam kehidupan di alam nyata ini, dan sebagainya);
10) Melaksanakan upacara resi yajna (upacara pariksa, upacara diksa, upacara ngelinggihang veda), berdana punya pada sulinggih atau pandita, berguru pada orang suci, tirtha yatra ke tempat suci bersama sulinggih atau pandita, berguru pada orang suci, sungkem (pranam) pada sulinggih sebagai guru nabe, menerapkan ajaran tri rnam, dan sebagainya.
Dalam penerapan yoga marga oleh umat Hindu, realitanya seperti berikut :
a) Melaksanakan introspeksi atau pengendalian diri;
b) Menerapkan ajaran tapa, brata, yoga dan samadhi;
c) Menerapkan ajaran astangga yoga;
d) Melakukan kerja sama atau relasi yang baik dan terpuji dengan sesama;
e) Menjalin hubungan kemitraan secara terhormat dengan rekanan, lingkungan, dan semua ciptaan Tuhan di alam semesta ini;
f) Membangun pasraman atau paguyuban untuk praktek yoga;
g) Mengelola ashram yang bergerak di bidang pendidikan rohani, agama, spiritual, dan upaya pencerahan diri lahir batin;
h) Menerapkan filosofi mulat sarira;
i) Menerapkan filosofi ngedetin/ngeret indriya;
j) Menerapkan filosfi mauna;
k) Menerapkan filosofi upawasa;
l) Menerapkan filosofi catur brata panyepian, dan
m) Menerapkan filosofi tapasya, pangastawa, dan menerapkan ajaran agama Hindu dengan baik dan benar menuju keluhuran diri sebagai mahluk sosial dan religius.


Catur marga 2
Ajaran Tri Marga, Catur Marga dan Catur Yoga adalah sama, hanya sebutannya yang berbeda.

1. Jnana Marga Yoga

Jnana artinya kebijaksanaan filsafat atau ilmu pengetahuan. Jadi Jnana Marga Yoga adalah jalan untuk mencapai persatuan Atman dan Brahman berdasarkan atas ilmu pengetahuan atau kebijaksanaan filsafat kebenaran.

Menurut Upanisad pengetahuan seorang bijaksana (Jnanin) dapat dibagi atas dua bagian yaitu Apara Widya dan Pari Widya. Apara Widya adalah pengetahuan dalam tingkat kemewahan suci (ajaran-ajaran suci Weda) sedangkan Pari Widya adalah pengetahuan tingkat tinggi tentang hakikat kebenaran Atman dan Brahman. Jadi Apara Widya adalah dasar untuk mencapai Pari Widya. Seorang Jnanin memiliki pengetahuan untuk mencapai kebenaran yang sempurna, dengan Wiweka (logika) yang dalam mereka benar-benar bisa membedakan yang kekal dan tidak kekal, sehingga bisa melepaskan yang tidak kekal dan mencapai kekekalan yang sempurna.

“Alangkah cepat dan pendeknya kehidupan sebagai manusia ini, tak bedanya dengan sinarnya kilat dan sangat susah pula untuk didapat. Oleh karena itu berusaha benar-benarlah untuk berbuat (sadhana) berdasarkan kebenaran (dharma) untuk menghapuskan kesengsaraan hidup guna mencapai sorga” (Sarasamuscaya II-14)

“Ia yang pikirannya tidak digoyahkan dalam keadaan dukacita dan bebas dari keinginan-keinginan ditengah-tengah kesukacitaan, ia yang dapat mengatasi nafsu, kesesatan dan kemarahan, ia disebut seorang yang bijaksana” (Bhagawad Gita II-56)

2. Karma Marga Yoga

Karma adalah perbuatan. Jadi Karma Marga Yoga adalah jalan untuk mencapai kesatuan atman dan Brahman melalui kerja atau perbuatan tanpa ikatan, tanpa pamrih, tulus dan ikhlas, penuh dengan amal kebajikan dan pengorbanan.

Dalam Karma Marga Yoga, perbuatan dan kerja merupakan suatu pengembalian dengan melepaskan segala hasil atau buah dari segala perbuatan dan segala yang dikerjakannya. Dengan melakukan amal kebajikan tanpa pamrih, akan dapat mengembalikan emosi dan melepaskan atma dari ikatan duniawi.

Seorang Karmin dapat melepaskan diri dari ikatan karma wasana dan karma phala nya, terbebas dari unsur-unsur maya, sehingga mencapai kesempurnaan dan kebebasan tertinggi (moksa)

“Bukan dengan jalan tiada bekerja, orang dapat mencapai kebebasan dari perbuatan. Juga tidak hanya melepaskan diri dari pekerjaan, orang akan mencapai kesempurnaannya." (Bhagawad Gita III-4)

“Serahkanlah segala pekerjaan kepadaku, dengan memusatkan pikiran kepada atma, melepaskan diri dari pengharapan dan perasaan keakuan, dan berjuanglah kamu, bebas dari pikiranmu yang susah” (Bhagawad Gita III-30)

“Bekerjalah kamu selalu, yang harus dilakukan dengan tiada terikat olehnya, karena orang mendapat tujuannya yang tertinggi dengan melakukan pekerjaan yang tak terikat olehnya” (Bhagawad Gita III-19)

Jadi seorang Karmin dalam kehidupannya selalu bekerja tanpa pamrih, mengutamakan pengabdian dan pengorbanan, sehingga hidupnya tidak akan mungkin sia-sia di dunia ini, sebab phala pengorbanan dan pengabdiannya mendapatkan kesempurnaan lahir bathin dan moksa.

3. Bakti Marga Yoga

Bakti adalah cinta, dalam hal ini Bhakti adalah cinta yang mendalam kepada Tuhan. Jadi Bakti Marga Yoga adalah jalan untuk mencapai kebebasan dan kesatuan atman dan Brahman berdasarkan atas cinta dan sujud bakti terhadap Tuhan.

Orang suci melakukan sujud bakti atas dasar kecintaannya yang suci murni, tulus ikhlas terhadap Tuhan akan mendapatkan penerangan suci karena Tuhan merahmatkan tuntunan kepadanya sehingga bakti tersebut melekat dan membathin berdasarkan ajaran Tuhan, bebas dari segala noda dan dosa.

Seorang Bhakta tidak mungkin akan melakukan perbuatan jahat atau buruk dan segala hasil usahanya semua diperuntukkan kepada Tuhan.

“Orang saleh yang menyembah aku adalah empat macam yaitu, orang yang mencari kekayaan, orang yang bijaksana, orang yang mencari pengetahuan dan orang yang dalam keadaan susah, Oh Arjuna” (Bhagawad Gita VII-16)

“Diantara ini, orang yang bijaksana yang selalu terus menerus bersatu dengan Hyang Suci, kebaktiannya terpusat hanya kesatu arah (Tuhan) adalah yang terbaik. Sebab aku kasih sekali kepadanya dan dia kasih kepadaku” (Bhagawad Gita VII-17)

“Dengan bentuk apapun juga mereka bakti kepadaku (Bhakta), yang dengan kepercayaan bermaksud menyembah aku (dengan Sraddha), kepercayaan itu aku tegakkan” (Bhagawad Gita VII-21)

Diantara jalan dan cara yang ditempuh oleh umat manusia untuk mencapai kebebasan yang sempurna dan persatuan atman dan brahman, maka jalan Bakti Marga Yoga adalah jalan yang paling mudah dan banyak dilakukan/ditempuh oleh manusia untuk mencapai tujuan hidupnya.

Yang terpenting bagi seorang Bhakta adalah penyerahan diri sepenuhnya dan sujud bhakti pada Tuhan.

4. Raja Marga Yoga

Raja Marga Yoga adalah jalan untuk mencapai kebebasan yang sempurna berdasarkan pelaksanaan Tapa Brata Yoga Semadhi.

Tapa dan Brata merupakan suatu latihan untuk mengendalikan emosi (nafsu) sedangkan Yoga dan Semadhi adalah latihan untuk dapat menyatukan atman dengan brahman (Tuhan) dengan melakukan konsentrasi yang setepat-tepatnya dalam ketenangan suasana semadhi yang sempurna.

Seorang Raja Yoga akan dapat menghubungkan dirinya dengan Tuhan misalnya dengan melakukan Astangga Yoga yaitu delapan jalan untuk melakukan Yoga untuk mencapai Moksa, yaitu :

a. Yama (Larangan)
   yaitu disiplin penahanan diri terhadap keinginan atas nafsu

b. Nyama (Suruhan)
   yaitu beradat yang baik dengan memupuk kebiasaan-kebiasaan yang baik.

c. Asana
   yaitu mengatur sikap duduk yang baik

d. Pranayama
   yaitu mengatur pernafasan yang sempurna dan teratur. Puraka (menarik nafas), Kumbaka (menahan nafas), Recaka (menghembuskan nafas).

e. Pratyahara
   yaitu mengontrol dan mengembalikan semua indrya, sehingga dapat melihat sinar-sinar suci.

f. Dharana
   yaitu usaha-usaha untuk menyatukan pikiran dengan Tuhan.

g. Dhyana
   yaitu usaha-usaha untuk menyatukan pikiran dengan Tuhan yang tarafnya lebih tinggi daripada Dharana.

h. Semadhi
   yaitu persatuan Atman dengan Brahman (Tuhan).

Lima yang pertama merupakan bantuan luar daripada Yoga.

Dengan melakukan Astangga Yoga, seorang Raja Yoga (Yogin) akan dapat menerima wahyu (Sruti) melalui pengamatan intuisinya yang telah mekar dan dapat pula mengalami Jiwan Mukti, dan selanjutnya setelah meninggal atmanya akan bersatu dengan Tuhan.

“Seorang Yogin harus tetap memusatkan pikirannya kepada atma yang maha besar (Tuhan), tinggal dalam kesunyian dan tersendiri, bebas dari angan-angan dan keinginan untuk memilikinya” (Bhagawad Gita VI-10)

“Karena kebahagiaan tertinggi datang pada Yogin, yang pikirannya tenang, yang nafsunya tidak bergolak, yang keadaannya bersih dan bersatu dengan Tuhan (Moksa)” (Bhagawad Gita VI-27)

Demikianlah cara atau jalan yang dapat dituruti, dilaksanakan oleh manusia sebagai tuntunan baginya untuk mencapai tujuan hidupnya yakni menikmati kesempurnaan hidup yang disebut Moksa.

Keempat jalan dan cara diatas semuanya adalah sama, tiap-tiap jalan meletakkan dasar dan cara-cara tersendiri. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, semuanya baik dan utama, tergantung kepribadian, watak, kesanggupan dan bakat manusia masing-masing. Semuanya akan mencapai tujuannya asal dilakukan dengan pernuh kepercayaan, ketekunan dengan tulus ikhlas, kesujudan, keteguhan iman dan tanpa pamrih.

“Dengan jalan bagaimanapun ditempuh oleh manusia ke arahku, semuanya aku terima dan memenuhi keinginan mereka, melalui banyak jalan manusia menuju jalanku, Oh Prtha” (Bhagawad Gita V-2)

defenisi Antropologi,agama,budaya,kepercayaan dan magis


Anthropologi
Istilah antropologi terjadi dari kata antropos dan logos. Kedua kata itu berasal dari bahasa Yunani ; antropos artinya manusia logos artinya ilmu atau studi. Jadi antropologi artinya adalah ilmu atau studi tentang manusia, atau jelasnya ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia, baik dari segi hayati maupun dari segi budaya (Americana, 1983, 2:43). Ilmu tentang hayati manusia dapat dibedakan antara yang disebut Paleo-Antropologi dan Antropologi Fisik dalam arti sempit. Kedua pembagian ini merupakan satu kelompok ilmu yang disebut Antropologi Fisik. Adanya perbedaan itu dikarenakan objek penelitiannya berbeda. Jika penelitiannya mengenai fosil-fosil manusia purba, yaitu sisa-sisa kerangka tubuh manusia purba yang pada umumnya terdapat di dalam bumi dan cara penelitiannya dilakukan dengan cara penggalian tanah, maka ia dalam ruang lingkup penelitian Paleo-Antropologi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami tentang asal usul terjadi dan perkembangan manusia secara evolusi. Jika penelitiannya mengenai Fenotipik manusia, yaitu ciri- ciri tubuh manusia yang ada diluar, begitu pula mengenai Genotipik, yaitu ciri-ciri tubuh manusia yang didalam maka ia merupakan ruang lingkup penelitian Antropologi fisik. Tujuan penelitian Antropologi fisik adalah untuk memahami sejarah terjadinya berbagai macam bentuk corak manusia, sehingga dengan demikian manusia di dunia dapat dikelompokan dalam berbagai golongan ras. Sumber : (Hilman Hadikusuma. 2006. Antropologi Hukum Indonesia. Bandung: PT Alumni. Hal : 1)



Antropologi di Indonesia Sejak dalam abad ke- XIX, ilmu antropologi tentang Indonesia merupakan suatu ilmu Belanda yang dilakukan oleh orang Belanda, dengan tujuan untuk menyelidiki masyarakat dan kebudayaan penduduk Indonesia. Sumber : (Koentjaraningrat. 1964. Tokoh-tokoh Antropologi.Universitas Jakarta. Hal: 148 ).

 Antropologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari makhluk antrhopos/ manusia, merupakan suatu intregasi dari ilmu-ilmu yang masing- masing mempelajari suatu kompleks masalah- masalah khusus mengenai manusia. Sumber : ( Koentjaraningrat. 1969. Arti Antropologi Untuk Indonesia Masa Ini. Jakarta:Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Hal: 3).

 Pada masa permulaan dari berdirinya negara kita ini, malahan ada sarjana-sarjana yang mengira bahwa ilmu antropologi itu suatu ilmu yang hanya meneliti suku-suku bangsa primitif saja, sehingga tidak cocok untuk suatu negara baru yang harus lebih memandang ke masa depannya dari pada memandang aspek- aspek terbelakang, primitif dan statisnya. Mulai masa menjelang Perang Dunia II, ilmu antropologi telah berkembang pesat menjadi suatu ilmu yang berambisi untuk mencapai pengertian mengenai berbagai masalah dalam kehidupan kemasyarakatan dan kebudayaan jaman sekarang. Sumber : ( Koentjaraningrat. 1969. Arti Antropologi Untuk Indonesia Masa Ini. Jakarta:Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Hal: 108).


Koentjaraningrat : Antropologi adalah ilmu yang mempelajari
umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan. Dari definisi-definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antropologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai- nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda.

Menurut Ralfh L Beals dan Harry Hoijen : 1954: 2 antropologi adalah ilmu yang mempelajarai manusia dan semua apa yang dikerjakannya.Menurut Ralfh L Beals dan Harry Hoijen : 1954: 2

Definisi Anthropologi menurut para ahli William A. Havilland:Antropologi adalah studi
tentang umat manusia,berusaha menyusungeneralisasi yang bermanfaattentang manusia dan perilakunya serta untukmemperoleh pengertian yanglengkap tentangkeanekaragaman manusia.

David Hunter: anthropologiadalah ilmu yang lahir darikeingintahuan yang tidakterbatas tentang umat manusia. Koentjaraningrat: Anthropologi adalah ilmuyang mempelajari umatmanusia pada umumnyadengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.

Kebudayaan
Pengertian Kebudayaan sangat erat  hubungannya dengan masyarakat.
 E.B Tylor, menyatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhanyang kompleks yang didalamnya meliputi pengetahuan,kepercayaan, seni, kesusilaan,adapt istiadat, sertakesanggupan dan kebiasaanlainnya yang mempelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

R. Linton, menyatakan bahwakebudayaan adalah merupakankonfigurasi dari tingkah laku yang dipelajari dan hasil daritingkah laku itu yang unsur- unsur pembentuknya didukung dan diteruskan oleh anggota darimasyarakat tertentu.

 Herkovits, menytakan bahwa kebudayaan adalah bagian darilingkungan hidup yang diciptakan oleh manusia.

 Krober dan Kluckhohn,menyatakan bahwa kebudayaan.adalah pola, eksplisit dan
implicit, tentang untuik perilaku yang dipelajari dan diwariskan melalui simbol-simbol, yang merupakan prestasi khasmanusia, termasukperwujudannya dalam benda-benda budaya.

 Ki Hajar Dewantara, menyatakan bahwa kebudayaanadalah buah dari manusia, yang merupakan hasil perjuanganmanusia terhadap dua pengaruhkuat, alam danh jaman (kodrat
dan masyarakat) yang merupakan bukti kejayaan hidupmanusia untuk mengatasiberbagai rintangan dankesukaran di alam hidup danpenghidupannya guna mencapaikeselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya besipat tertib dan damai.

 Soedjatmoko, mengemukakankebudayaan adalah penjelmaanmanusia dalampenghadapannya dengan lingkungan alam dan sosialnyadengan ruang dimana ia hidup dan dalam penghadapannyadengan waktu, peluang danpilihan, kesinambungan dan perubahan, serta sejarah (Soedjatmoko 1985)


 Koentjaraningrat, menyatakanbahwa kebudayaan adalahkeseluruhan gagasan dan karya
manusia yang harus dibiasakanya dengan belajar serta keseluruhan dari hasil budipekertinya (Supartono, 2001;Keesing, 1992).
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Agama
 Pengertian Agama Menurut Definisi (Pengertian Termonologis) Menurut Harun Nasution, agama adalah suatu sistem kepercayaan dan tingkah laku yang berasa dari suatu kekuatan yang ghaib. Menurut Al-Syahrastani, agama adalah kekuatan dan kepatuhan yang terkadang biasa diartikan sebagai pembalasan dan perhitungan (amal perbuatan di akhirat). (M. Ali Yatim Abdullah,2004:5) 

Menurut Prof. Dr. Bouquet mendefinisikan agama adalah hubungan yang tetap antara diri manusia dengan yang bukan manusia yang bersifat suci dan supernatur, dan yang bersifat berada dengan sendirinya dan yang mempunyai kekuasaan absolute yang disebut Tuhan. 
(Abu Ahmadi,1984:14).

Das dan Teng (1998) memberikan definisi ataupengertian kepercayaan (trust) sebagai derajat di mana seseorang yang percaya menaruh sikap positif terhadap keinginan baik dan keandalan orang lain yang dipercayanya di dalam situasi yang berubah ubah dan beresiko.

 Rousseau et al, (1998) memberikan definisi atau pengertian kepercayaan sebagai bagian psikologis yang terdiri dari keadaan pasrah untuk menerima kekurangan berdasarkan harapan positif dari niat atau perilaku orang lain.

 Mayer (1995) memberikab definisi kepercayaan dalam definisi yang lain dinyatakan sebagai keinginan suatu pihak untuk menjadi pasrah/ menerima tindakan dari pihak lain berdasarkan pengharapan bahwa pihak lain tersebut akan melakukan sesuatu tindakan tertentu yang penting bagi pihak yang memberikan kepercayaan, terhadap kemampuan memonitor atau mengendalikan pihak lain. 

 Doney et.al. (1998) memberikan definisi atau pengertian kepercayan sebagai sesuatu yang diharapkan dari kejujuran dan perilaku kooperif yang berdasarkan saling berbagi norma-norma dan nilai yang sama . 


 Kepercayaan 
 Definisi Kepercayaan (Pengertian Termonologis) Kata kepercayaan menurut istilah (terminology) di Indonesia pada waktu ini ialah keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa di luar agama atau tidak termasuk kedalam agama. (Rasyidi : 1980). A.L. Huxley di dalam bukunya The Perennial Philosophy. Seorang pengarang dan ahli filsafat di negeri Inggeris menyebutkan empat arti: 
a. Percaya/mengandal (kepada orang tertentu). 
b. Percaya (Inggeris: Faith) kepada wibawa (dari para ahli di suatu bidang ilmu pengetahuan) . 
c. Percaya (Inggeris: believe) kepada dalil-dalil yang kita ketahui bahwa kita dapat menceknya, apabila kita mempunyai kesediaan. Kesempatan dan kemampuan untuk itu (misalnya mempercayai toeri atom). 
d. Percaya (Inggeris: believe) kepada dalil-dalil yang kita ketahui bahwa kita dapat 
menceknya, sekalipun kita menghendakinya (missal, mempercayai pasal-pasal pengakuan iman Athanasius). Huxley berpendapat, bahwa ketiga arti yang pertama mempunyai peranan yang penting dalam Kehidupan sehari-hari dan dalam ilmu pengetahuan, tetapi percaya dalam arti yang ke empat itu pandangannya sama dengan apa yang disebut kepercayaan agamani. (Permadi,1994:3). 

Kamus umum Purwadarminto, 1976. Mengatakan bahwa kepercayaan mempunya pengertian: 
a. Anggapan atau keyakinanbenar (ada, sengguh- sungguh). 
b. Sesuatu yang dipercayai (dianggap dengan benar). Menurut Endang Syaifuddin Anshari (1985) percayailah sifat dan sikap membenarkan sesuatu atau menganggap sesuatu sebagai benar.

menurut Dananjaya (153) kepercayaan pada intinya bukan hanya mencakup kelakuan (behavior) tetapi juga pengalama (experiences) juga alat. Jadi kepercayaan adala anggapan atau keyakinan terhadap sesuatu yang mempengaruhi sifat mental yang meyakininya.

 Magic
Magis sering dikatakan erat hubungannya dengan sihir. Tetapi, menurut Honig, kata tersebut semula berarti imam, sehingga aneh sekali bila magis berhubungan dengan sihir sebab sihir termasuk perbuatan yang sangat tidak baik. Namun magis justru berarti ilmu sihir. Sebenarnya menurut kepercayaan masyarakat primitif pengertian magis lebih luas daripada sihir, karena yang dikatakan magis menurut kepercayaan mereka adalah suatu cara berfikir dan suatu cara hidup yang mempunyai arti lebih tinggi daripada apa yang diperbuat oleh seorang ahli sihir. Orang yang percaya dan menjalankan magis mendasarkan idenya pada dua hal, yaitu:
1. Bahwa dunia ini penuh dengan daya-daya gaib, yang disebut daya-daya alam oleh orang modern.
2. Bahwa daya-daya gaib tersebut dapat digunakan, tetapi penggunaannya tidak dengan akal pikiran melainkan dengan cara yang irrasional.
Dalam masyarakat primitif, kedudukan magis sangat penting. Boleh dikatakan semua upacara keagamaan, sikap hidup orang-orang primitif, terutama sikap rohani mereka, adalah bersifat magis karena magis merupakan segala perbuatan atau abstensi dari segala perbuatan mereka untuk mencapai suatu maksud tertentu melalui kekuatan-kekuatan yang ada di alam gaib, sebagaimana telah disebutkan.
Seorang antropolog yang bernama Evans-Pritchard tentang Azande (1937) merupakan upaya paling awal yang mendeskripsikan keyakinan dan ritus-ritus yang berkaitan dengan magis dan ilmu gaib dalam masyarakat non-Eropa, dengan tanpa prasangka serta sensasionalisme yang tidak semestinya. Pendekatannya dikemukakan secara jelas dalam pengantar bukunya yang menunjukkan bagaimana keyakinan-keyakinan mistik dan ritus membentuk suatu “system ideasional”, dan bagaimana system ini diekspresikan dalam aksi sosial. Dia menganggap tidak ada gunanya mendeskripsikan aspek-aspek lain dari kehidupan sosial Azande. Oleh karena itu penekanannya bersifat intelektual, memfokuskan bagaimana ilmu gaib berkaitan dengan nasib buruk sebagai suatu bentuk penjelasan distereotipkan. Mengapa dia menekankan ilmu gaib dan ilmu sihir? Apakah dia hanya ingin membahas sisi esoteric dan irasional kebudayaan masyarakat pre-literature ? Ada dua jawaban atas pertanyaan ini.
1. Evans-Pritchard menunjukkan bahwa pemikiran masyarakat Azande pada dasarnya adalah rasional. Pemikiran serta aksi mereka didasarkan pada pengetahuanempiris yang cermat. Bahkan perbedaan antara apa yang dia sebut pemikiran “empiris” dan pemikiran “mistis” merupakan tema kunci yang merasuk ke seluruh studinya, dan dia menunjukkan berdampingannya kedua pola pemikiran tersebut dikalangan masyarakat Azande. Meskipun berbeda dengan kita, Azande tidak memiliki konsepsi tentang “tatanan alam”, namun demikian mereka memahami suatu perbedaan antara bekerjanya alam di satu sisi, dan bekerjanya magis, hantu, dan ilmu sihir disisi yang lain.
2. Ada hal penting bahwa agama atau keyakinan terhadap supranatural masyarakat Azande, berbeda dengan masyarakat tetangganya Nuer dan Dinka, sebagian besar dirasuki gagasan tentang abinza dan magis. Hal ini disebutkan oleh Seligman dalam pengantarnya ketika dia mencatat langkanya magis di kalangan Dinka dan Shilluk. Evans-Pritchard menekankan bahwa ilmu gaib adalah faktor yang ada dimana-mana dan lazim dalam kehidupan sosial Azande, masyarakat memperbincangkannya sebagai bagian dari pembicaraan sehari-hari.